Udara #7 Resonansi


Udara Cover

Selamat pagi.  Udara kini merasa lebih lega, rasa hutang budinya terbayar.  Terbayar dengan menjaga cahaya lilin untuk si bocah.

Senyumnya merekah.  Garis lengkung tangguh menghias dari tarikan dekik pipinya.    Selendang matahari mulai terlihat di jangkauan jauh batas timur.  Cahayanya sangat menyilaukan, namun karenanya lah hati semakin kuat untuk menggores kisah hari ini.  Serdadu embun yang berbaris layaknya tentara yang gagah langsung bersorak sorai ceria sambil berterbangan di angkasa, menguap dan memadati angkasa lebih dahulu.

Udara bersorak gembira, “Apa pun itu, pasti ada.  Ruang bahagia.  Untukmu untukku dan untuk semua yang merangkul impian bahagia.  Hari ini, aku akan lelah mencarimu”.

Udara menari, berputar, melompat kegirangan sampai-sampai menggetarkan semua perabot yang ada di ruangan bersama si bocah.  Semua perobot kecil di ruangan tersebut bergoyang.  Bukan saja bergoyong, tetapi lebih berisik, gaduh.  Tak sadar polahnya hampir menjatuhkan segala benda yang ada di ruangan itu.

Si bocah sontak terbangun, ruang kamarnya diselimuti angin yang membuat seisi ruangan bergetar.  Matanya pun sulit untuk terbuka lebar karena udara begitu kencang berputar sehingga debu-debu berterbangan menyisipi halus ke dalam mata.  Si bocah segera menghamipiri jendela, berusaha membuka jendela agar udara dapat keluar ruangan.

sreggh”, suara gesekan jendela kayu yang dibuka.

Terimakasih, bocah.  Terimakasih ya.”, ucap Udara kepada si bocah.  Udara benar-benar bahagia.  Matanya berbinar dengan senyum penuh dambaan melanjutkan pengembaraannya.  Dengan berhempus cepat, udara menuju ke jendela yang terbuka.  Namun, tak sengaja ia menjatuhkan sebuah benda.  Dan, seketika ia berhenti tepat di muka jendela, melihat apa yang ia jatuhkan.

Sempat olehnya melihat sebuah benda jatuh, kemudian membentur ke lantai.

tingggg…..”

Tak lama kemudian,

tingggg…..”

tingggg…..”

Hemm… Apa?  Apa tadi itu yang baru saja bergetar melewatiku? Hanya ada besi yang jatuh.  Suara itu.. itu tadi suara apa?  Kenapa begitu?”, Udara penasaran.  Ia tak paham apa yang terjadi.  Isi kepalanya mereka ulang kejadian.  Tak ada yang masuk akal baginya.  Keingintahuannya mengikat.  Membuatnya bertahan untuk mencari sebab demikian.

Garpu talaku”, kata si bocah sambil mengambil benda yang jatuh itu.  Masih di muka jendela, Udara memperhatikannya.  Si bocah kemudian menyusun benda itu bersama tiga benda yang memiliki bentuk dan ukuran yang sama.  Selepas pergi, si bocah menyentil garpu tala tersebut.

tinggg….”.  “tinggg….”.  “tinggg….”.

heey… itu dia.”, Udara terkuas bahagia seolah-olah rahasia telah terungkap dari penasarannya.  Namun, ia masih penasaran.  Penasaran kenapa bisa demikian.  Tatapannya tertuju ke arah bocah yang berjalan keluar ruangan.  Penuh harapan, ia berharap si bocah sempat menjawab pertanyaan bisunya.

Beruntunglah udara.  Sesaat sebelum si bocah ke luar ruangan.  Sambil ia mengaitkan gengaman tangannya ke tuas pintu.  Si bocah bertutur, “Resonansi.  Resonansi adalah peristiwa ikut bergetarnya suatu benda karena getaran benda lain. Syarat terjadinya resonansi adalah frekuensi yang sama dengan sumber getarnya. Apakah pada gelombang bunyi juga terjadi resonansi?  Ah, itu pelajaran sekolah.”.

Penuh bahagia.  Seakan dunia sudah selesai ia jelajahi.  Udara tersenyum senang.  Penasaran sudah tak berada lagi dalam keingitahuannya.  Kemudian ia juga berkata, “Resonansi”.

Menurutmu bagaimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s