Udara #6 Cahaya Lilin


Udara Cover

Udara terbangun.  Masih di ruang yang sama dengan si bocah.  Getaran merdu suara adzan menggema santun olehnya.

Udara ingin cepat mengembara lagi.  Ingin cepat keluar untuk menyentuh dan menemani embun-embun yang berbaris rapi seperti kuncup-kuncup bening di dedaunan hijau.  Ingin cepat keluar dan menangkap cahaya matahari pagi.  Ingin cepat keluar dan merajut angkasa dengan burung-burung pecinta pagi.  Keinginannya tepepat padat dalam hati, seperti bola keramik yang hendak pecah – menyebar bersepih-sepih ke segala penjuru.

Udara, tetap udara.  Sebelum pergi, ia ingin berterimakasih kepada si bocah yang secara tidak langsung mentatihkan kata cinta semalam.

Langit masih gelap.  Tak terlihat selendang matahari sedikit pun.  Si bocah masih tertidur pulas.  Tertidur pulas ditemani lilin yang mulai meredup.  Hanya cahaya lilin itu yang ada, menemaninya.

Saya rindu embun, burung pecinta pagi, angkasa, dan dedaunan hijau.  Saya akan pergi selepas ucapan terima kasih ini.  Jika saya pergi, maka cahaya lilin akan mati.  Si bocah akan kegelapan.  Kemudian, apa guna saya berterima kasih ?”, Udara berfikir ulang untuk lekas pergi dari ruangan tersebut.

Pendaran cahaya hangat nan sayup itu akan mati jika Udara pergi.  Api lilin membutuhkan selimut Udara untuk tetap hidup.  Melangsungkan hidupnya yang tinggal seputik untuk terus menerangi.  Sedangkan, di dalam keinginan terpepat.  Udara harus segera pergi demi membuat keinginannya menjadi nyata.  Jika ia masih di ruangan itu untuk lilin, maka waktu akan lewat begitu saja.  Dan, Keinginannya hanya mimpi.

“….”, Udara diam sejenak.  Merenung, memikirkan apa yang harus ia perbuat.

Kemudian, ucapnya gamblang.

Ya, saya tahu.  Sebentar lagi matahari terbit.  Tidak masalah jika saya pergi sekarang.  Si bocah hanya akan mengalami gelap sebentar.  Sehingganya, saya dapat menemui bentangan yang ada di luar sana.  Toh, nantinya lilin bisa hidup lagi di esok hari.”, Udara bersemangat untuk segera pergi.

Segera Ia mendekati si bocah untuk berterima kasih.

cahaya lillin paintingTerima kasih ya”.

“Tetapi, saya akan tetap disini.  Menjaga cahaya lilin.  Karena saya tahu, saya tidak bisa membuat cahaya.  Jika saya pergi, maka dunia akan gelap.  Ruangan ini akan gelap.  Dan, dunia di luar sana yang masih gelap”, Udara.

Menurutmu bagaimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s