Solusi Banjir DKI Jakarta


Di musim hujan kali ini, tahun 2013, media informasi akhir-akhir ini kebanjiran informasi tentang banjir yang melanda dunia, daerah-daerah di Indonesia, dan paling disorot adalah banjir yang melanda DKI Jakarta.  Banjir bukan kali ini melanda daerah DKI Jakarta, namun kali ini banjir terlihat semakin parah dibandingkan dengan banjir-banjir sebelumnya.  Sudah ada 14 orang yang menjadi korban meninggal akibat banjir, seperti yang disampaikan media berita TV yang saya simak tadi sore.  Banjir memang sudah menjadi masalah tahunan, atau maaf kata bisa menjadi “tamu wajib” bagi DKI Jakarta.  Namun, menurut saya, kejadian ini harusnya dapat diwanti-wanti atau siap di hadapai sebelum datangnya musim hujan oleh seluruh warga Indonesia, khususnya DKI Jakarta.  Coba setiap warga Indonesia memikirkan solusi seminimal mungkin untuk mengatasi banjir yang melanda DKI Jakarta.  Iya, dari anak SD mungkin yang masih berfikir polos mungkin saja dapat memberikan ide yang sederhana untuk mengatasi banjir, juga mungkin solusi dari sesepuh (orang dewasa secara umur dan pengalaman) yang jelas telah menikmati asinnya garam kehidupan.

Pasti ada solusi

Banjir DKI Jakarta

Alloh swt tidak menimpkan suatu masalah yang tidak mungkin tidak terselesaikan oleh kaum yang diujinya.  Dari sini saya yakin, bahwa pasti ada solusi untuk mengatasi banjir yang melanda DKI Jakarta.  Perhatikan saja, Jepang mempunyai masalah dengan gempa kemudian mereka mengatasi masalah tersebut dengan bangunan anti gempa.  Amerika Serikat mempunyai masalah dengan angin tornado kemudian mereka mencoba mengatasi masalah tersebut dengan motor yang dapat mengganti arah pergerakan arah-jalur tornado.  Belanda mempunyai dataran yang terbatas kemudian mereka membuat dam untuk membentuk daerah yang dapat ditinggali (Amsterdam).  Kejadian dibentuknya Terusan Panama juga pasti adalah bentuk solusi atas masalah.  Jadi, Banjir untuk DKI Jakarta pasti ada solusinya.

Solusi dari saya

Dam

Jalur air masuk di tepian sungai -sungai DKI Jakarta yang sering meluap perlu dibentuk dam-dam yang mempunyai sistem khusus mengatasi banjir, misal dengan pembentukan kincir yang digerakkan turbin sehingga air yang mengalir di sungai-sungai dapat diantarkan lebih cepat ke laut.  Untuk menghemat energi dalam menggerakan kincir maka kincir hanya bekerja (otomatis) pada saat hujan turun.

Jurang air

Perlu ada lokasi khusus berupa jurang buatan sebagai tempat penampungan air yang besar, dimana lokasi ini adalah pusat air yang meluap.  Bisa berukuran 100 meter persegi dengan kedalaman mencapai setengah kilometer.  Jurang buatan ini bukan jurang biasa,  semua air yang meluap diarahkan ke jurang ini.  Kemudian, dalam jurang tersebut diberikan pipa dan pompa air penyedot yang besar untuk diantarkan ke laut.  Atau, air yang sudah tertampung dalam jurang tersebut dapat disalurkan ke dalam saluran air bawah tanah.

Tanah Apung

Modifikasi sedemikian rupa sehingga membuat tanah apung pada DKI Jakarta yang sudah padat, plus dengan bangunan-bangunan yang besar dan sudah tertancap kokoh bersama pondasinya tentu tidak mudah.  Namun, memegang harapan adalah lebih baik daripada hanya hampa menerima musibah.  Semoga, ini juga menjadi sousi yang memiliki persentasi mungkin untuk dapat dilakukan.

Sebelumnya, tanah-tanah di kawasan rentan banjir di DKI Jakarta dimodifikasi sedemikian rupa sehingga seperti pemanfaatan dongkrak mobil.  Tanah apung ini bekerja dengan menyesuaikan datangnya air yang meluap, semakin banyak air yang meluap maka dapat memberikan tekanan pada tanah.  Tekanan ini dapat memberikan tambahan gaya pada dongkrak yang terpasang ditanah sebagai pendorong terangkatnya tanah, jalan, dan sebagainya.  Tentu jumlah air yang meluap dapat terlihat kurang memadai untuk mengangkat tanah di DKI Jakarta yang padat (belum lagi beberapa gedung besarnya).  Maka dari itu, dongkrak yang digunakan adalah dongkrak yang memiliki spesifikasi khusus dalam mengangkat jumlah besar meskipun suplai pendorongnya sangat kecil.  Penerapan desain ini tentu bukan sembarangan orang, namun saya yakin teman-teman yang menekuni disiplin ilmu teknik sipil atau arsitek bisa membayangkan lebih mudah dengan segala kematangaannya.

Buanglah sampah pada sembarangan tempat

‘Buanglah sampah pada tempatnya’ –  Slogan ini sudah saya dengar sejak saya belum menyentuh bangku taman kanak-kanak.  Saat itu juga sudah terjadi banjir di DKI Jakarta.  Sampai saat ini, slogan itu masih digunakan ‘buangalah sampah pada tempatnya’, namun masih juga terjadi banjir.  Sepertinya memang perlu ganti slogan, ‘buanglah sampah pada sembarangan tempat’.
Maksudnya,  pasti ada kategori sampah yang sangat menghambat saluran air.  Coba, biarkan sembarang sampah terbuang sembarangan tempat.  Kemudian saat terjadi banjir, manfaatkan beberapa bulan untuk meninjau sampah yang menjadi faktor kuat sebagai pengambat saluran air.  Dan, pemerintah harus punya solusi untuk model sampah ini.  Mungkin, bisa diberlakukan bahwa pembentuk sampah model ini dilarang untuk dibawa masuk ke kawasan rentan terhambatnya saluran air.  Sanksi yang tegas.  Misalkan penyebabnya adalah plastik maka coba ditata sedemikian rupa sehingga ada tatanan baru untuk mengganti pengaruh plastik.

Pipa raksasa dengan penyedot air

Di setiap sudut daerah rentan banjir bisa diberikan tangki penampung air dengan penyedot air.  Kemudian, tangki air yang tertampung pada tangki tersebut disalurkan ke pipa raksasa untuk dibuatkan jalur yang panjang ke laut atau jurang air.  Air yang tersimpan di dalam tangkidan pipa  tidak harus langsung di keluarkan, bisa dikeluarkan saat hujan reda dan siklus air sudah mulai normal.

 

Ya, demikian paparan sederhana yang terlintas dalam benak saya.  Pro kontra pasti ada.  Apa pun itu, saya berharap bahwa DKI Jakarta bisa segera ‘mentas’ dari masalah banjir yang terus menjadi permasalahan rutin.  Salam hangat untuk saudara-saudara DKI Jakarta dan seluruh Indonesia, meskipun dinginnya hujan semoga kekeluargaan NKRI menghangatkan kita.

Iklan

Menurutmu bagaimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s