Mempertahankan Budaya


Hari ini, sedang diadakan seminar nasional sains dari FMIPA Unila. Materi seminar yang disampaikan yaitu beberapa penemuan dan pengkajian ilmiah diantaranya adalah tentang sel surya, diagnosa denyut jantung dengan penampang tapis (seperti osiloskop), penyaring gas CO yang berbahaya pada kendaraan bermotor/ber-AC, dan sampai yang terakhir yaitu tentang GANGGUAN koneksi dengan menggunakan modem. Disampaikan oleh pemateri terakhir yaitu Bapak Jakson dari UML (Pembicara dari Universitas Muhammadiyah Lampung) Gangguan yang terjadi sebenarnya bukan karena operator yang membuat koneksi internet berjalan tidak stabil, jadi jangan salahkan operatornya, melainkan adanya pihak tertentu yang memang sengaja mengambil jatah bandwit banyak dalam koneksi maya. Terus apa hubungannya dengan judul tulisan saya diatas(?) Ya, sebelum meninggalkan ruangan saya dan rekan-rekan berbincang-bincang dengan para dosen di ruangan sejenak, sekitar 15 menit, tetapi perbincangan tersebut memberikan makna bagi saya. Salah satu kutipan dari Bapak Tiryono Rubby, M.Sc., Ph.D. (Kajur Matematika FMIPA Unila) beliau mengatakan, “Ya, seperti itu tadi. Bahwa perlu adanya budaya yang baik dalam sistem yang telah disusun dengan baik. Kembali lagi kepada orang-orangnya. Bukan operatornya yang salah, melainkan orang-orangnya yang belum sadar akan budaya yang baik.  Maka dari itu, kita perlu memupuk budaya yang baik itu tadi dan mempertahankannya“.

gotong-royongYa, sepakat pak.  Ini membahas tentang korup. Bahwa korup bukan hanya terjadi dalam masalah uang/materi saja, melainkan juga bisa terjadi dalam suatu manajemen. Saya utarakan korup manajemen yang pernah saya temui sebelumnya, saya memiliki seorang pahlawan tanda jasa yang sedang mengajukan diri sebagai profesor. Beliau telah menyelesaikan administrasi dan berbagai persyaratannya dan sangat menyakitkan bagi saya dan teman-teman bahwa beliau di tuduh melakukan plagiat. Sungguh korup dalam hal manajemen. Saat diminta untuk melunasi biaya seminar beliau tuntaskan, biaya untuk ambil jurnal beliau tuntaskan, waktu selama 8 tahun untuk memeras otak telah beliau tuntaskan, dan selama itu pula beliau mengumpulkan data bahkan sampai ke Amerika serikat pun beliau tuntaskan. Semua proses normal-normal saja, tidak ada kasus atau masalah yang serupa dengan konteks yang beliau bahas, namun karena ada main geser dikit didalam ulah budaya yang tidak baik maka jurnal beliau dianggap plagiat.  Sistem OK, namun budaya dis-OK.  Dari gambaran diatas, saya mengerti bahwa kesinambungan antara budaya dan sistem yang sudah rapih haruslah baik agar tidak ada lagi rasa terzolimi seperti ini.  Sistem yang baik menjadi terasa sangat mengecewakan apabila disikapi dengan perilaku yang tidak sepantasnya dilakukan, kembali lagi ke budaya.  Kesinambungan ini akan menjaga agar suatu hasil yang baik dapat dirasakan oleh orang yang bergerak sesuai dengan sistem.

Maka dari itu, jika Anda berada dalam budaya yang baik maka pertahankanlah budaya itu. Namun, Jika Anda berada dalam budaya yang belum baik maka bantulah, usahakanlah, semngatilah, dan berjuangalah agar menciptakan budaya yang baik.

Iklan

Menurutmu bagaimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s