Nama Saya, Budi Santoso


Salam Kelap-kelip.

Tahukah Anda, untuk mempunyai karakter yang baik kita harus mampu untuk mengenali siapa kita ini, mengenali siapa kita dengan penuh keterbukaan, kemudian memberikan apa-adanya kita ini kepada lingkungan kita, kemudian timbulah sikap-sikap yang patut kita lakukan sebagai diri kita. Semua itu agar kita tidak menjadi orang yang luntang-lantung, tak berarah, tak konsisten, mudah terbawa pemahaman yang berbeda-beda. Kita perlu Character Building, bukan Character Switching. Maka dari itu, inilah tulisan bagaimana saya mengenali Budi Santoso dengan membangun karakter dari latar belakang.

Biografi singkat :

Budi Santoso, akrab dipanggil Budi atau Bod. Ia adalah anak dari pasangan Suami Istri, Sarengat (alm) dan Mulyati. Lahir di Metro, 12 Januari 1990, anak ke-4 dari empat bersaudara. Sekarang menetap di Desa Raman Aji, Kec.Raman Utara, Kab.Lampung Timur. Mengenyam pendidikan formal pada tahun 1997 di TK LKMD Raman Aji, Langsung masuk kelas 0 besar karena secara umur ia sudah cukup matang. Kemudian pada tahun 1998, mulai memasuki bangku SD. Setelah lulus dari jenjang ini pada tahun 2003, ia melanjutkan perjalanan pendidikannya di SMPN 1 RAMAN UTARA sehingga lulus pada tahun 2009. Hal yang luar biasa banyak ia ingat pada jenjang pendidikan berikutnya, yaitu pada masa remaja di SMAN 1 METRO. Ia juga mengatakan bahwa, “tantangan semakin terasa dan rasa bercanda berlebihan terasa sangat membosankan dalam kehidupan ini” yaitu saat-saat memasuki bangku kuliah di Jurusan Matematika FMIPA, Universitas Lampung.

Berikut penjelasan Bod mengenai biografi diatas.

Hahaha… terasa lucu saat membaca tulisan biografi yang dibuat oleh saya diatas. Jadi, dalam pemaparan saya ini, saya ingin membuat bahwa ecak-ecaknya saya sedang ditanyai oleh orang bernama saya. Skemanya, jadi saya ingin mengajak pembaca untuk ikut andil, ecak-ecaknya sebagai “orang yang selalu mengatakan, owh.. begitu”. Itu bukan draft yang diajukan ke polsek kok. Hhe

Ya, Nama saya Budi Santoso. Akrab dipanggil Budi oleh teman-teman sekolah dan akrab dipanggil Bod oleh kakak, embak, paman, bibi, sepupu, dan tetangga. Secara Ekonomi keluarga saya dapat dikatakan tidak terlalu santai dan terlalu bingung untuk pendapatan keluarga. Penghasilan keluarga berasal dari 70% dari bidang pertanian, selainnya berasal dari wirausaha seperti perdagangan, perikanan, dan lain-lain. Sedih kalau menjelaskan kalimat berikutnya, jadi sekilas saja. Bapak saya bernama Sarengat, beliau seorang yang spesial dalam hidup saya. kehilangan sosok yang istimewa dalam fungsi kontinu kehidupan ini saat saya berumur 7 tahun, saat itu saat saya akan masuk ke jenjang SD. Umur 7 tahun saat itu masa-masa yang masih penuh warna bahagia dalam hidup sehingga paham atau tidak paham saat itu saya akui ada rasa tangis walaupun tidak saya tahan, saya pun tidak paham untuk menangis, alangkah bodohnya saya, saat itu mas Surya masih menyelesaikan studinya di FE Unila, saat itu hanya ada mas Sam dan Mbak Mia yang masih memasuki jenjang SMA sehingga ada di rumah, Mamak syok. Mas dan Mbak berlari ke mushola yang berjarak 120 m dari rumah untuk sholat, menabahkan diri. Namun, saya hanya memegang mainan ular-tangga saya sambil melihat mereka sujud sambil menangis di mushola itu, alangkah bodohnya saya. Tetangga kadang menceritakan kearifan bapak, saya hanya bisa tersenyum. Beliau termasuk seorang aktivis didukung dengan beberapa sohibnya pada masanya, warga sering mengatakan, bahwa beliau bukan saja seseorang yang meninggalkan keluarga saya, namun juga meniggalkan desa Raman Aji. Bahwa, pada saat itu beliau berani keluar dari KUD yang pada saat itu terjadi penyimpangan sehingga bapak membentuk kelompok organisasi tani bersama sohib-sohibnya dan menjadi ketua divisi pada masa itu untuk melakukan pemberdayaan untuk anggota kelompok tani ini. Sehingga sering saya lihat ada banyak program kerja dan piagam yang menumpuk di lemari beliau.

Mamak saya bernama Mulyati, beliau seorang manager keluarga yang sejati. Pendidikan beliau tidak setinggi saya, namun ia memiliki kemampuan kepemimpinan yang luar biasa. Beliau mampu memimpin keluarga, mampu melakukan analisis yang menurut saya terkadang aneh, Kakak saya pernah beradu cara perhitungan pembagian yang baik, Mamak yang menang, mampu membuatkan pesawat dan bandar udara untuk menerbangkan anaknya meraih cita, mengesampingkan 99,99% kebutuhannya demi kepentingan anaknya. Sering saya menjumpai beliau dengan kalkulatornya sampai larut malam. Karena beliau, saya berani berpendapat bahwa untuk menjadi seorang manager yang super, Anda tidak perlu untuk menjadi sarjana.. cukup lakukan semuanya karena cinta untuk orang yang Anda sayangi. Anda akan memiliki skill managemen yang awesome.

Lahir dengan operasi sesar di Rumah Sakit Islam Metro, pada tangal 12 Januari 1990 dan umur saya 22 tahun saat menulis biografi ini. Saat ini, saya menetap di Desa Raman Aji, dengan komunitas etnis lampung, jawa, dan sunda. Tepatnya di kompleks umbul kapok, Pc.2 Raman Aji. Dibesarkan dengan lingkungan yang gemar sepak bola membuat saya jatuh cinta dengan sepak bola. Di depan rumah saya, tepat dengan arah lurus tiang gawang. Kelompok Olahraga Raman Aji (ORA), ORA FC fokus ke bidang sepakbola menjadi favorit di desa saya, dengan pelatih legendaris pak Leo (alm), seorang penyiar radio juga pada masa itu. Saya pun masuk kepembinaan saat awal masuk SMP. Saya senang bisa menjadi tim inti ORA FC walau hanya dalam skala Kecamatan, kalau skala kabupaten.. haha miris.. jarang masuk tim. 😦 Mas Sur dan Mas Sam yang sering masuk, Mas Sur sebagai play maker (AMF, CMF) , Mas Sam sebagai WF, CF (Sayap Depan atau Striker), saya sendiri sebagai LMF, CF (Sayap bertahan dan striker). Nama saya tidak sepopuler mereka dalam tim, kalau saya tertinggal bisa diganti pilihan yang lain. Mbak Mia tidak suka bola, Senangnya masak dan baca Al Quran.

Masuk taman kanak-kanak pada tahun 1997, lokasinya 60m dari rumah dandan dan jalan kaki diurus mbak dan yang paling saya ingat, uang saku Rp50 dulu sudah cukup bro. 🙂 Masuk SD tahun 1998, kasus paling parah yaitu di strap (berdiri sampai kelas selesai) yang pertama karena saat naik kelas 3. Pada saat itu, Jam istirahat adalah pukul 10.00 WIB, sedangkan yang saya ingat pukul 09.00 WIB (masih terpola pikir saat kelas 2) jadi, saya keliaran pada saat itu. Yang Kedua saat kelas 5 ada kelas olahraga dengan materi praktik lari maraton keliling dengan rute 4 dusun kurang lebih sejauh 1 Km keliling, awalnya rute perempuan dibedakan dengan rute cowo, mereka lebih dekat. Anak SD saat itu ngga kenal gentel-gentelan (dalam kelompok saya maksudnya), jadi kami minta rutenya disamakan, jangan pilih kasih (karena pak kepala sekolah sempat menyampaikan, guru jangan pilih kasih, saat amanat upacara). Ketika praktik, tiba-tiba teman-teman cowo mengajak mainan dulu, mampir sana, mampir sini, mampir minum karena melewati rumah dari salah satu geng cowo (ada Gatot, sikembar, Fatkur, Ari, Ridwan, Atot, Zan, Dwi, dkk) ini. Sesampai finish, kami dipanggil guru. Saya masih ingat kata beliau, “Masa laki kalah sama perempuan… yang perempuan sudah sampai duluan”. Akhirnya kami distrap di dekat lapangan. Sempat menyabet gelar siswa favorit saat masa-masa SD, dengan prestasi salah satunya yaitu juara Olimpiade SD tingkat kecamatan doang, Seleksi kabupaten ngga pernah lolos. Hahaha. dan bintang bola terbaik kecamatan. Top scorer bro.

Pada tahun 2003, saya melanjutkan perjalanan pendidikan di SMPN 1 RAMAN UTARA sehingga lulus pada tahun 2006. SMPN 1 RAMAN UTARA, adalah 6 dari salah satu sekolah negeri di kecamatanku. SMPN ini tempat mas Sam dahulu mengenyam pendidikannya, dan sejak tahun 2009 adalah tempat mengajar mas Sur sampai sekarang. Sekolah ini termasuk sekolah yang dipertimbangkan di kecamatanku, walau saya akui ada banyak sekolah favorit di luar sana yang boleh dikatakan lebih dahsyat, namun ini adalah tempat pendidikan yang saya banggakan sehingga saya bisa menulis di blogg ini. Kasus paling parah yaitu, ngga ada.. haha. Standar, bolos. Pada masa ini, mas Sam masuk jenjang studi kuliah, beliau mengambil studi Teknologi Informasi di PT Teknokrat Bandar Lampung, dan sekarang beliau menjadi dosen disana. Dari Mas Sam, saya memperdalam mempelajari komputer sehingga terkadang saya ambil andil membantu guru menjelaskan pelajaran komputer di laboratorium maupun di kelas. Di masa ini saya hanya aktif di organisasi sepakbola sekolah dan organisasi yang ada di desa, terutama ORA FC yang membawa tour pertama saya dalam kompetisi antar kecamatan di Purbalingga, Lam-Tim. Mulai sering main ke sawah sampai-sampai kulit saya sawo matang (item…hahaaha). Pemain bola kalau ngga item, ngga keren. Saat SMP, pernah menjadi tim olimpiade kecamatan untuk menjadikan Piala bergilir menjadi hak paten yang kurang satu kali lagi menang, tetapi mohon maaf untuk guru-guru pembimbing.. kami gagal mempatenkannya di sekolah kita. Piala jatuh ke Way Jepara.

ORA FC : houi !!

Hal yang luar biasa banyak yang saya ingat pada jenjang pendidikan berikutnya, yaitu pada masa remaja di SMAN 1 METRO. Saya lulus SMP dengan nilai lulusan tertinggi no.2. Di masa SMA, banyak banget cerita disini. Hadehhh…. Awalnya diminta seperti mas Sur dan mbak Mia untuk lanjut ke MAN 1 Metro. Namun, pada saat itu MAN 1 sedang turun gread, SMAN 1 sedang on fire.. lulusannya sedang jadi perbincangan seperti SMAN 1 Kota Gajah. Dari masukan guru SD, guru SMP, teman, tetangga, keluarga maka saya memutuskan memilih SMAN 1 Metro, yang pada saat itu menggunakan seleksi masuk berdasarkan nilai kelulusan UN, tidak lagi tes tertulis. Jadi, setiap 3 hari sekali saya cek di dinding laporan pendaftar.. “ah, nilai ku tergeser pendaftar baru ndak ya…!?” alhamdulillah tidak tergeser sampai batas akhir pendaftaran, masuk dah kelas pertama X3. Kelas kocak, rame, cerdas, dan edan. Ada Nico, Kris, Guruh, Aldoni, Anand, Khabib, Erlis, Ekky, Yuniko, Yunika, Wapung, Amel, Memei, Nora, Dian, Esti, Deni(embek), Doni, dan lain-lain. (maaf, tidak bisa disebut satu-satu). Kasus paling parah, saya pernah kena marah guru sampai mau netes nangis bro, karena dapat nilai biologi 65 lagi pada ujian berikutnya. Tetapi, itulah cambuk saya. Terimakasih untuk Bapak Imanullah Nazar, saat itu saya paham bapak sengaja memarahi saya karena sikap kepedulian bapak. Orang-orang super dahsyat saya temukan pada tahun kedua, masuk dalam kelas XI IPA 1 bersama jajaran teman-teman olimpiade berjumlah 28 siswa terangkum dalam satu kelas yang kami beri nama LITHIUM, pada saat itu kebijakan kepala sekolah memutuskan untuk mengumpulkan siswa tim olimpiade tiap bidang dalam satu kelas. Berbeda dari tahun sebelumnya yang dipisah. Efeknya ada bagus, ada enggak. Bagus karena saya bisa bertanya dengan pakar seumuran saya, lebih enak daripada menghadap ke guru. Kurang bagusnya… suasana belajar dikelas sangat cepat… aku ngga kuat… guru jarang masuk dengan materi yang detail, kebanyakan soal tiap pertemuan khususnya pelajaran IPA. Ingin berteriak, pak RAM saya cuma 1GB teman-teman 5GB, aku teler. Namun, semua masalah teratasi. Suasana akrab, kami sharing antar teman, dan yang mendalami bidang olimpiade tertentu harus bisa menjelaskan kepada kami tentang materi yang disampaikan sesuai dengan bidangnya. Ternyata itulah yang dimaksud Pak Kepsek, dengan siswa mampu menjelaskan kepada teman tentang bidang olimpiade yang ia tekuni maka ia akan semakin paham untuk mengerti apa yang ia sampaikan, berbagi ilmu akan menambah ilmu kita. Kekompakan kami mampu meraih juara pada HUT RI acara jalan fungky dari OSIS, Pentas seni musik akustik, apalagi ya.. lupa. Yang gagal juara, tapi capeknya kerasa adalah cheerleader cowo, sudah latihan joget, senam, breakdance, kuda-kuda ini itu, edit sound, cari kostum, make up, banting malu didepan para wanita, pokoknya full tilt abis. Eh… Ga juara.hhahaha.. tak apalah. Kami tidak ada lomba kebersihan kelas, karena kami tidak mempunyai ruang kelas, adanya kelas studi bidang misal kelas matematika, kelas fisika, kelas kimia, dsb. Sistem Belajar Mengajar menggunakan sistem moving class jadi setiap ganti pelajaran, ayoo..moving !! . Pada tahun pertama, organisasi non-akademik yang dikuti KIR (Karya Ilmiah Remaja), Rismansa (Rohani Islam Smansa), dan SMANSA FC (logonya mirip banget seperti Real Madrid J ). Organisasi akademik awalnya minat ke Olimpiade Matematika, tetapi minder ah.. bunuh diri.. isinya anak mantan OSN SMP Provinsi, sama aja OSN tiap hari nanti saya (ya, tahu juga lah kemampuan diri jika dibandingkan). Akhirnya lari ke OSN Komputer (menggunakan bahasa Pascal, 1,5 tahun saya belajar) dari tahun pertama sampai tahun ketiga. Prestasi paling sreg, ya ketika bisa nyabet gelar juara III OSN Komputer Provinsi. Pada saat itu, dibimbing Unila selama 10 hari oleh bapak Didik Kurniawan. Dalam hati saya, “hahaha.. jadi mahasiswa 10 hari di Unila”. Sekarang malah menjadi kampus saya. Target saingannya saat itu, SMAN 1 Gading Rejo, yang ternyata dibimbing oleh UI. Hehe.. Untuk pengalaman organisasi, tahun kedua menjabat sebagai koordinator kaderisasi Rismansa di ketuai oleh personil nasheed Nuansa dari Metro, Khabib Al Amin, “aBib, leng penting bayar”. (progja besar dari Rismansa yaitu SIAR-Silaturahmi antar Rohis se-Lampung, 1x/2th), dan Ketua Forum Silaturahmi Rohis se-Metro (FORSTAR) karena jabatan itu saya tidak bisa mengambil kerja berat di organisasi lain. Sebenarnya sangat mengecewakan dari kerja saya dalam mengemban amanah diatas, kembali kepribadi saya dengan karakter yang belum beres dengan kepribadian saya mengemban amanah itu. Dan bagi saya, jabatan itu beda… bukan sembarang jabatan, ini skala dunia, “Islam”. Dan lihatlah lagi, ini skala dimensi tinggi, akhirat. banyak orang yang memilih “jangan saya”, kurang pantas. Dan amanah itu, tersasang dalam pundak yang rapuh ini. Mohon maaf untuk mbak Diah pembina divisi pelajar (sekarang Dosen STAIN Metro) dahulu saya tidak bisa menjalankannya dengan benar. Terimaksih untuk M. Qurniawan Muhyin atas bantuannya selama perjalanan tersebut, semoga cepat lulus bawa gelar insinyur dan mengolah minyak bumi kita sendiri. “Al Islamu Yaklu wala yukla alaih”. Tahun ketiga di SMAN 1 Metro, sekolah melarang siswa untuk aktif di organisasi, tetapi saat itu saya terjun ke kompetisi bersama SMANSA FC, dan alhasil.. kami belum pernah membawa piala. Hhe. Lawan STO (Sekolah Tinggi Olahraga) Metro berat bro. Ne diomongi wong tuo ki leng manut tho yo, ora entok restu khok nekad. Yoo, ora juara ! 🙂

Tahun 2009. LITHIUM mulai menyebar ke penjuru negeri mengejar mimpi yang telah terpatri untuk ditemui, Salam kelap-kelip anak STAN (Amin, Gerry, Brian, Nico, dan Bambang). Anak ITB Yang baru saja pulang dari Singapore diam-diam ketahuan (Edi), penjaga lab Farmasi Unpad, ”geser dikit Nif (Hanif), awas jamuran di Lab terus”. Kuning-kuning cerah, UI (Guruh, Sofi, Amme, Zahra, dan Dini). Generasi masa depan ada di senyuman kalian, Unila (Arifa, Erlis, Tri, Meta, Amal, dan Resti), UPI (Nora), UNY (Martian-Dc’masiv). Dokter murah senyum, Unila (Okta, Wika), UGM (Dinda). Bu Bidan Poltekes (Okta), Pak ketua, tambah gerot dab, STPDN (Susilo), Insinyur pertanian Unila (Dede), Marinir muda (Siska). Ramadhan dinanti, Lithium kumpul lagi 🙂 . Lithium : “ NKRI Harga MATI !! “

Selepas SMA, mata hati mulai menatap visi. Mantapkan langkah dengan penuh pertimbangan. Nasehat orangtua menyarankan akper untuk studi berikutnya, guru SMA menyarankan ilmu komputer untuk berikutnya. Dengan saran ini dan itu, mulai berfifkir akper tidak sedikit biaya… Saya tetapkan pilihan pertama STAN karena pertimbangan prospek kedepan yang dapat saya yakini akan jelas, kedua Matematika FMIPA Unila karena pertimbangan bahwa kakak sudah di bidang komputer, dan saya benar-benar pahami bahwa selama saya mendalami komputer hanya satu bidang saat semua masalah mengerucut, matematika. Dengan saya belajar matematika, maka saya dapat menerapkannya dalam bidang komputer, saya dapat dua secara tersirat.

Tahap pertama, tes STAN di Palembang. Tidak lulus bro. Coba lagi tahun berikutnya, ada pelaksanaan tes di Lampung… tuing, tidak lulus lagi. Umur sudah bertambah sudah habis masa berlaku J untuk tes berikutnya. Oh, ya sudah… Katakan Full Tilt Matematika ! (karena setelah tes STAN pertama gagal, saya mencoba mengikuti tes SNMPTN dan alhamdulillah lulus). Ya, saat saya menulis ini, Matematika FMIPA Unila adalah tempat saya menekuni disiplin ilmu matematika sampai level ke-3 dari tahun 2009 sejak saya terangkat sebagai mahasiswa di Universitas Lampung. Bertemu dengan 9 pejantan dengan sebutan pandawa 9 (Lana, Agus, Wira, Ferdi, Heri, Candra, Madhan, Maul, dan Budi). Namun, pada semester pertama Lana alumni SMAN 2 Bandar Lampung dan Agus alumni MAN 2 Metro (Juara 1 OSN Komputer Metro) mereka lulus seleksi penerimaan Mahasiswa STAN dan mereka memilih lanjut studi ke STAN, meninggalkan kami bertujuh. Kami bertujuh bukanlah pria kesepian-So7, ibarat Indonesia yang memiliki luas permukaan laut lebih dari daratan (1: 1/3), itulah kami, karena angkatan matematika 2009 memiliki jumlah mahasiswa 1/3 daripada jumlah mahasiswi. Kami berkumpul, tertawa bersama, belajar bersama dan kita punya nama bersama, yaitu GEOMETRI (Generation of Mathematics Real and Inspirative). Weleh-weleh. Dengan warna biru muda menyatukan warna keberagaman kami, banyak yang telah mereka ajarkan kepada saya, bahkan dengan adanya mereka saya merasakan… inilah hidup. Tak pernah datar. Geometri : “ Milik Kita Bersama ! “. Kasus paling parah, standar. Bolos. Prestasi, belum ada. Ikut olimpiade, tetapi belum pernah nyerempet-nyerempet juara harapan. Wkwkwkwkwk. Organisasi kampus, dari awal masuk sampai sebelum tanggal 27/06/2012 masih berkembang bersama HIMATIKA (Himpunan Mahasiswa Jurusan Matematika) dan terhitung sejak tanggal 27/06/2012 sudah tercatat sebagai alumni HIMATIKA. Tahun pertama di HIMATIKA menjadi Ketua Generasi Muda HIMATIKA, tahun kedua menjadi pengurus bidang keilmuan HIMATIKA dan mengikuti Organisasi Sepakbola Unila (namun, karena jadwal latihan yang berbarengan dengan jadwal kuliah terpaksa saya lepas untuk bidang olahraga), tahun ketiga menjadi Ketua Bidang Keilmuan HIMATIKA (Progja Besarnya yaitu, Dies Natalis Jurusan Matematika = Olimpiade Sains bidang Matematika). Sempat masuk ke BEM pada tahun ke-3, namun karena pada saat itu juga sebagai kepala bidang di HIMATIKA sehingga tidak bisa berkontribusi banyak di BEM FMIPA saya melepaskan keanggotaan saya di BEM FMIPA agar pimpinan di BEM FMIPA dapat menempatkan posisi kerja anggota secara maksimal, karena pada saat itu juga saya lulus seleksi penerimaan beasiswa djarum (dahsyat) membuat saya lebih membagi waktu untuk program kerja beswan DSO Lampung.

Yah, terasa sangat cepat perjalanan hidup ini.. dapat dituiskan dalam secarik kertas. Kemudian visi kedepan ngapain?.

Ya, tentu ada visi kedepan. Cukup sering saya mengikuti training motivasi dan dalam mengikuti tarining tersebut saya melihat bagaimana cara motivator memberikan motivasi agar peserta training termotivasi untuk meraih visi mereka. Salah satunya yaitu, saat bagian menjelang akhir sesi, motivator mengatakan, “Siapa yang memiliki visi, acungkan tangan ! ”. Peserta training tidak ada yang merespon. Kemudian, motivator mengatakannya lagi, dengan tambahan, “Siapa yang ingin punya visi, tak perlu Anda sampaikan, ayo acungkan tangan ! ” . Partisipan mengangkat tangan, kemudian motivator menujuk satu diantara peserta training tersebut, dan bertanya, “Apakah Anda ingin visi Anda terwujud ?”. “Iya, tentu”, jawab peserta. “Maka teriakan visi Anda sekeras mungkin pada Dunia, dan awali di stadium general ini… Silahkan berdiri dan teriakan visi Anda kepada para hadirin disini, sekeras mungkin ! silahkan…”.


Pemahaman yang saya dapatkan bahwa, ketika kita menyampaikan sesuatu kepada seseorang tentang apa yang menjadi tujuan kita, hal itu akan menjadi beban yang harus kita lepaskan dengan mewujudkannya. Kasarnya, diri kita ini memiliki ego, kebutuhan emosi. Saat diri mulai mengatakan ini dan itu kepada orang yang tidak kita kenal (entah dia akan membenci, mendukung, mencemooh,menertawai, senyum sinis, dsb), akan membuat diri ini untuk anti menarik kata-kata sendiri, dan terpacu untuk melakukannya, apalagi apabila mengatakannya pada orang yang dibenci, maka hal itu akan lebih mendorongnya untuk tidak menarik kata-kata itu. Ya, begitulah kebutuhan emosi yang dimanfaatkan secara tepat. Sampaikanlah Visi Anda pada Dunia ! Seperti saat Amerika serikat menyampaikan visi akan terbang ke bulan dalam waktu persiapan yang sangat singkat, ia sampaikan kepada dunia, ia sampaikan kepada rivalnya waktu itu, dengan kondisi teknologi yang minim, dan seluruh dunia meragukannya. Kenapa ngga diam-diam saja, kalau gagal kan ngga malu. Itulah muatannya bro. Senyum sinis lebih memacu semangat daripada senyum saja. Semakin banyak yang sinis semakin semangat !

Jadi, Visi saya setelah selesai studi di Jurusan Matematika FMIPA Unila adalah, langsung lanjutkan S2 di IPB. Jika butuh bantuan keluarga, kata sepakat sudah disampaikan, asalkan mampu menyelesaikan studi S1 selama 4 tahun. Lebih dari 4 tahun semua urusan ditanggung sendiri. S2 bukan hanya belajar, tetapi harus punya penghasilan tetap. Setelah itu segera melamar dia sepulang dari S2, agar ku dapatkan setengah agama ini.

Niat Lhah Bro, SEMANGAT !

Iklan

2 responses to “Nama Saya, Budi Santoso

Menurutmu bagaimana?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s